Bulan: Maret 2018

Tanda Pasangan Abusif

kadang hubungan yang berakhir dengan kekerasan justru diawali dengan hal-hal yang baik, manis dan penuh kasih sayang di awal hubungan—sehingga kita sering gagal mendeteksi potensi kekerasan dan agresi yang mengancam di depan sana. Perhatikan lima sinyal berikut—dan bersiaplah “lari” bila pasangan kita memiliki salah satunya!Tanda Pasangan Abusif

1. Dia memaksa kita untuk segera berkomitmen dalam suatu hubungan.
Bila dia sedkit memaksakita untuk segera mengambil keputusan dalam hubungan dan tidak menghargai batasan-batasan atau pertimbangan pribadi (belum mau terikat, masih ingin melanjutkan sekolah, tidak ingin melangkahi kakak, terikat dinas dan lain sebagainya)—dia bisa saja seorang abuser.

2. Mengontrol dan bersikap posesif.
Dia akan memberikan pandangan tidak suka pada pria mana saja yang kebetulan menatap kita—di pinggir jalan sekali pun! Dia juga tidak segan-segan mengkonfrontasi dan bertanya detail tentang siapa saja teman-teman pria kita. Saat beraktivitas terpisah, secara obsesif dia akan mengirimkan pesan, memantau timeline dan aktivitas media sosial –dan bahkan mendatangi kantor/kampus atau tempat kita beraktivitas tanpa pemberitahuan sebelumnya. Perlakuannya akan membuat kita merasa bersalah ketika menghabiskan waktu dengan sahabat dan keluarga—tanpa melibatkan dirinya, dan membuat kita akhirnya terisolasi dari lingkaran orang-orang terdekat kita sebelumnya.

3. Dia bersikap seolah-olah adalah “korban”
Dia selalu menyalahkan orang lain untuk semua kesalahannya dan tidak mengakui bahwa dia juga memiliki andil dari setiap kesalahan dan kegagalannya. Saat merasa kecewa, dia tidak segang-segan untuk menyalahkan kita—dan berharap bahwa kita lah yang bertanggungjawab untuk membuatnya merasa lebih baik. Saat akhirnya terjadi kekerasan, dia juga akan menyalahkan kita atas tindakannya tersebut.

4. Dia moody dan gampang marah
Moodnya tidak bisa ditebak—dan bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Dia juga gampang kecewa dan tidak segan-segan marah untuk tindakan kita yang dianggapnya tidak masuk akal(nya)—dan jarang meminta maaf untuk sikap-sikapnya tersebut.

5. Dia manipulatif dan sering memaksakan kehendak
Bukan hanya memaksakan harapan dan keinginan—pria jenis ini juga tidak segan-segan memaksakan keinginan seksualnya kepada kita, walaupun kita mengatakan tidak mau atau merasa jijik karenanya. Ini merupakan lampu merah yang harus segera dipatuhi. Segera cari jalan dan tinggalkan dia—dan semua potensi kekerasan yang bisa dilakukannya!

Mengakhiri Hubungan Yang Abusif

Kadang memang sulit untuk mengenali pelakuk kekerasan—atau mengakui bahwa kita terlibat dalam hubungan tersebut. Beberapa orang yang pernah berada dalam “neraka” tersebut, mengakui bahwa hal terberat adalah meninggalkan sang kekasih dan mengakhiri hubungan—yang disebabkan karena mereka merasa sangat terikat dengan pelaku kekerasan, dan bahkan terlanjur tidak punya teman atau keluarga yang memiliki kedekatan emosional dengan mereka.

Bila kita sadar bahwa kita tidak menginginkan hubungan ini, segera tinggalkan. Jika tidak bisa, carilah pertolongan keluarga, teman yang bisa dipercaya atau pertolongan profesional. Memiliki hubungan dan dicintai memang adalah impian setiap orang (apalagi jika si dia, di atas kertas memiliki kualifikasi unggul dalam banyak hal), tetapi tentu saja hubungan ini akan segera berakhir menjadi mimpi buruk bila kita tidak memiliki tekad untuk segera mengakhirinya. Bila perlu, segera temukan konseling atau grup yang akan mendukung dan memberikan kita dorongan moril pascaputus dengan pasangan